Yenni Hartati's Blog & Shop

Hikmah 2 : Menjaga Perasaan Orang Lain

Posted on: February 24, 2009

Kejadian ini sudah berlangsung cukup lama. Seingat saya tahun 2003, saat saya dan suami baru menikah. Namun pesan yang saya dapat dari kejadian ini begitu membekas. Hingga sampai saat ini menjadi salah satu rambu bagi saya dalam berinteraksi dengan orang lain, khususnya di kalangan kader dakwah.

Pada suatu sore, saya sedang berjalan kaki bersama murobbiyah saya, Mba. Kami baru pulang dari pengajian pekanan. Saat itu hujan rintik – rintik. Di tengah perjalanan, kami berpapasan dengan sepasang suami istri “jenggoter” dan “jilbaber”. Sang suami memegang payung, sementara tangannya yang lain merangkul pundak istrinya. Mereka tampak mesra. Melihat itu, Mba menunduk, dan ia bertanya, “Yen, kamu dan suami berani tidak jalan seperti itu?” Saya tidak tahu apa maksud Mba bertanya seperti itu. Tanpa sempat berpikir panjang, saya jawab dengan spontan, “Nggak Mba”. Kemudian Mba menimpali, “iya, menjaga perasaan orang lain”. 

Deg… Saya baru mengerti apa maksud Mba menanyakan hal itu. Dalam hati saya bersyukur kepada Allah yang telah membimbing saya untuk spontan menjawab tidak. Apa jadinya kalau saya menjawab iya ? Yang mungkin wajar dilakukan oleh sepasang pengantin baru. Alhamdulillah, saya tidak menambah luka di hatinya. 

Mungkin, sang suami tidak bersalah. Bisa saja ia merangkul istrinya dengan tujuan agar mereka tidak kehujanan, mengingat payung yang digunakan tidak cukup besar untuk menaungi mereka berdua. Tetapi ternyata sikapnya telah melukai hati seseorang, tanpa ia sadari. Tanpa ia ketahui.

Hati manusia memang bermacam – macam. Ada yang biasa saja menyaksikan hal seperti itu. Tapi ada juga yang terluka. Sebenarnya, Mba bukanlah orang yang mudah tersinggung. Beliau pun memiliki bekal ruhiyah yang sangat baik. Interaksinya kepada Allah begitu kuat. Qiyamul lail, tilawah dan hafalan Al-Qur’an, shaum sunnah, dll selalu mengisi hari – hari beliau yang sudah padat dengan agenda dakwah. Memandang wajahnya meneduhkan hati. Mendengar suaranya yang lembut melantunkan kata – kata penuh hikmah, menyejukkan dada. Dengan kondisi seperti ini, insya Allah beliau tidak dekat dengan penyakit hati. 

Lalu kenapa hatinya mudah terluka melihat suami istri itu ? Saya merenung, mungkin karena beliau sedang diberi ujian yang berat. Beliau menikah dalam usia yang bisa dibilang tidak muda. Setelah menikah, karena tuntutan pekerjaan, mereka tinggal berjauhan. Dan ketika mereka bisa tinggal bersama, sang suami menderita sakit, hingga akhirnya meninggal dunia. Saya saja merasakan betapa berat ujian tersebut. Apalagi beliau yang merasakan langsung. Jadi, wajarlah kalau hatinya terluka. 

Kita memang harus senantiasa menjaga sikap. Terutama bagi seorang kader dakwah. Sikap yang tidak tepat berpotensi melukai hati saudara kita. Kasus yang mirip dengan suami istri tadi, cukup sering saya temui. Bahkan, mungkin ini dilakukan secara sengaja. Pasangan suami istri, yang pengantin baru khususnya, seringkali menampakkan kemesraan mereka di depan saudara – saudaranya. Mungkin maksudnya untuk memotivasi para ikhwan agar segera menikah. Tapi bagaimana jika yang menyaksikan itu adalah para akhwat yang belum jua menikah, sementara usia sudah kepala tiga? Para ikhwan mungkin bisa termotivasi, dan mereka bisa langsung mencari, mengajukan diri ke murobbi, atau “memilih” akhwat yang ia sukai. Tapi akhwat ? Motivasi yang timbul tidak sebanding dengan daya upaya yang bisa mereka lakukan. Jadinya, malah bisa memunculkan luka di hati. 

Bukan itu saja, kita mungkin sering melukai hati saudara kita. Disengaja atau tidak. Disadari atau tanpa sadar. Kita terkadang memamerkan nikmat yang Allah titipkan kepada kita, di depan orang lain yang belum memilikinya. Seorang suami atau istri memamerkan pasangan di depan saudaranya yang belum menikah. Seorang ibu atau ayah membanggakan banyaknya anak yang mereka miliki di depan saudaranya yang belum juga diberi karunia. Seorang kaya memamerkan hartanya di depan saudaranya yang papa. Seorang cantik atau gagah memamerkan kecantikannya di depan saudaranya yang tidak seberapa. Seorang karyawan memamerkan perusahaan “bonafid” tempat ia bekerja di depan saudaranya yang “morat – marit” mencari kerja. ……..Aahh…. Masih banyak lagi karunia Allah yang mungkin seringkali kita bangga kan. 

Mungkin awalnya kita bertujuan mulia. Tapi tanpa sadar, ternyata melukai hati saudara kita. Menyesakkan dadanya. Menitikkan air matanya. Meruntuhkan tembok kesabaran yang telah mereka bangun dengan susah payah. Ya Allah ampunilah kami, dan berikanlah kemudahan kepada saudara – saudara kami. Amin.

Semoga ke depan kita bisa lebih menjaga diri. Agar ukhuwah ini semakin indah. Mohon maaf jika ada kata yang salah. Al Haqqu min Rabbik, fa laa takunanna minal mumtarin. Wallahu a’lam bish shawab.

Tags:

1 Response to "Hikmah 2 : Menjaga Perasaan Orang Lain"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Recent Comments

septia susetyo on Kapok Pake JNE
Panca on Kapok Pake JNE
privat name on Kapok Pake JNE
Erlina on Kapok Pake JNE
Erlina on Kapok Pake JNE

Visitor Location

Blog Stats

  • 184,978 hits
%d bloggers like this: