Yenni Hartati's Blog & Shop

Arogansi Crew Busway

Posted on: March 26, 2009

busway

Bus Transjakarta, atau yang lebih dikenal dengan Busway, sudah beroperasi cukup lama. Seingat saya, mungkin sudah sekitar lima tahun. Banyak pujian dan juga keluhan penduduk Jakarta tentang Busway ini. Sopir dan kondektur metromini dan kopaja mengeluh karena turunnya jumlah penumpang sejak kehadiran busway. Para pengguna jalan mengeluhkan kemacetan yang kian parah karena sebagian jalan dijadikan koridor busway. Terjadi juga beberapa kecelakaan yang berhubungan dengan busway.

Namun, ada juga sebagian penduduk Jakarta yang menyambut gembira kehadiran busway ini. Busway bisa dikatakan moda transportasi anti macet. Asalkan koridornya tidak digunakan oleh pengguna jalan lainnya, khususnya mobil. Busway juga cukup nyaman. Ada pendingin ruangan, sehingga bebas asap rokok dan polusi jalanan. Walaupun kadang – kadang penyejuk ruangan ini tidak terasa pengaruhnya, karena penumpang yang melebihi kapasitas dan saling berdesakan. Tarif busway juga murah. Hanya dengan membayar Rp. 3500,- , dari ragunan, saya bisa sampai di ancol, pulogadung, dan lain – lain.

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, saya termasuk penduduk Jakarta yang mengandalkan busway untuk bepergian kemana – mana, khususnya tempat yang jauh. Paling tidak, sudah sekitar setahun saya menjadi penumpang setia busway. Banyak kejadian yang saya alami. Mulai dari berdesakan saat mengantri, menunggu yang lama, busway yang menyerempet / diserempet mobil, sopir yang mengemudikan lambat atau cepat bak sopir metromini, dan lain – lain. Tapi semua itu bisa saya maklumi, tidak begitu saya “ambil hati”.

Namun, yang paling tidak saya suka adalah arogansi crew busway. Pada suatu waktu, saya naik busway dari halimun ke pulogadung. Saat tiba di lampu merah pertigaan pasar rumput – minang kabau – manggarai, ada sebuah kopaja yang menghalangi jalan busway yang saya tumpangi. Kopaja itu datang dari arah pasar rumput, hendak belok kanan ke jalan minang kabau. Lampu jalur itu sedang merah. Tetapi si kopaja berhenti di depan jalur busway saya yang lampunya sedang hijau. Karena menghalangi jalan, sopir busway (perempuan) membunyikan klakson panjang berulang kali, sambil memasang tampang kesal. Si kondektur kopaja terlihat panik, ia tampaknya meminta si sopir untuk menepikan kopajanya. Tapi apa mau dikata, lampu jalur manggarai – halimun sedang hijau. Sehingga si sopir kopaja tidak bisa memajukan kendaraannya. Akhirnya sopir busway membanting setir ke kiri, berusaha untuk melewati bagian belakang kopaja. Berhasil. Sambil melewati kopaja itu, sopir busway berteriak berulang kali ke kondektur kopaja, “ Sopir mu tu GOBLOK, GOBLOK !!” Telinga saya pedas mendengarnya. Memang sopir kopaja itu salah. Tapi saya kira tak perlu marah – marah, membuat kebisingan dengan membunyikan klakson berulang kali, dan mengatakan si sopir kopaja goblok. Lha wong, busway itu masih bisa nyelip dan melanjutkan perjalanannya kok. Perempuan tapi kasar.

Di waktu yang lain, saya naik busway dari ragunan menuju halimun. Kali ini sopirnya laki – laki. Hari masih pagi, sekitar jam 8. Saat itu busway saya melintas di jalan mampang yang luar biasa macetnya. Alhamdulillah nya, busway tetap bisa melaju seperti biasa. Karena jalurnya ditutup untuk kendaraan lain. Pada pintu masuk koridor dipasang palang. Palang ini akan dibuka oleh petugas ketika ada busway yang hendak melintas. Setelah melewati suatu perempatan, busway yang saya tumpangi akan masuk ke jalur berikutnya. Petugas jaga bersiap – siap hendak membuka palang. Saya lihat, ada seorang pengendara motor yang hendak memanfaatkan kesempatan ini. Ketika palang koridor mulai dibuka, si pengendara motor langsung masuk ke koridor. Melihat itu, petugas jaga dengan refleks menggeser palang, hingga mengenai si pengendara motor. Si pengendara motor tampak terkejut. Saya pun kaget, tidak menyangka jika petugas jaga tega melakukan hal tersebut. Perbuatan petugas itu bisa saja mencelakakan si pengendara motor yang tampak sedikit ngebut. Ini yang saya sebut dengan arogansi petugas jaga koridor busway.

Masih di busway dan jalan yang sama. Tidak lama setelah kejadian di atas, busway saya melintasi jalan mampang yang terletak di antara halte duren tiga dan pasar mampang. Di bagian ini, kemacetan paling parah. Kendaraan memenuhi jalan, dari lampu merah pasar mampang hingga ke lampu merah sebelumnya (jalan mampang prapatan VII kalau tidak salah). Terpaksa koridor busway dibuka. Koridor inipun nyaris dipenuhi oleh kendaraan pribadi. Kemacetan pun terjadi.

Entah apa maksudnya, sopir busway menghentikan kendaraannya sangat dekat dengan kijang innova yang ada di depan. Mungkin hanya tersisa beberapa senti saja. Jika si sopir busway tidak pandai mengatur rem, atau si kijang tidak sengaja mundur sedikit, pasti tabrakan tidak bisa dihindari.

Antrian kendaraan melaju dengan sangat perlahan. Sopir busway tampaknya bosan memepet kendaraan di depan. Hingga ada celah yang cukup lebar. Tiba – tiba dari sebelah kanan datang sepeda motor yang hendak melintas di depan busway. Sepertinya ia ingin pindah ke bagian kiri koridor yang lebih kosong. Tapi sopir busway tidak mau memberi kesempatan kepada si pengendara motor. Ia segera memajukan busway nya. Nyaris menghimpit si pengendara motor dengan kijang di depannya. Si pengendara motor kaget. Ia tampak memprotes sopir busway. Sopir busway pun menampakkan arogansinya. Ia membusungkan dada, mendongakkan kepala, sambil berkata, “Apaa…? Apaa….?” Menantang si pengendara motor. Tampaknya sopir busway merasa ia wajar melakukan hal itu, karena itu adalah koridor khusus untuknya.

Tapi saya lebih bersimpati dengan pengendara motor. Saya tidak suka dengan sikap sopir busway. Masih untung si pengendara motor dan penumpang yang membonceng tidak cedera. Jika iya, apa sopir busway mau bertanggung jawab ? Sikap sopir busway itu tidak berpengaruh apa – apa bagi lajunya busway. Toh dengan menghalangi pengendara motor itu tidak membuat si busway bisa melaju. Ia tetap terhalang oleh mobil di depannya. Sementara si motor, bisa melaju dengan leluasa, karena ukurannya yang kecil.

Mengapa si sopir busway tampak tidak mau berbagi ? Tidak kah dia melihat bagaimana penuhnya jalur di sebelahnya. Jalan yang cukup lebar itu penuh sesak oleh berbagai kendaraan. Mayoritas adalah mobil pribadi yang mulus dan mengkilap. Sementara metromini dan kopaja yang tampak kosong terjepit di sela – selanya. Pengendara motor pun hanya kebagian tepi jalan, yang sering kali berlubang dan becek. Belum lagi ia harus berbagi dengan mobil yang diparkir, pejalan kaki, atau pendorong gerobak.

Harusnya kita bisa saling berempati. Arogansi hanya akan menambah masalah – masalah baru. Sungguh, kita ini hanya manusia biasa. Tidak pantas untuk arogan.

1 Response to "Arogansi Crew Busway"

Saya rasa jalur itu memang khusus dibuat untuk jalur Busway, kecuali ada hal-hal khusus (misal ambulans isi orang sekarat atau polisi mengejar buronan *sigh* dimana jalur biasa lagi macet maka jalur busway tersebut baru bisa dimaklumi digunakan untuk kendaraan dua diatas tadi).

Overall cuma satu yang saya tidak suka… kalau supir busway-nya nggak tahu cara mengerem dengan baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Recent Comments

septia susetyo on Kapok Pake JNE
Panca on Kapok Pake JNE
privat name on Kapok Pake JNE
Erlina on Kapok Pake JNE
Erlina on Kapok Pake JNE

Visitor Location

Blog Stats

  • 184,978 hits
%d bloggers like this: