Yenni Hartati's Blog & Shop

Refleksi Pendidikan Kita

Posted on: May 2, 2009

uasbnTanggal 2 Mei, kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Sudah puluhan kali kita memperingatinya. Sudah banyak refleksi yang digoreskan. Wajah dunia pendidikan di Indonesia pun telah berulang kali berganti rupa, seiring dengan bergantinya penguasa.

Pendidikan memang suatu hal yang vital. Ia adalah hak setiap warga negara. Dengan pendidikan yang baik, suatu bangsa akan dipandang berharga oleh warga dunia. Bahkan di dalam Islam pun seorang yang berilmu lebih mulia dibandingkan yang tidak. Orang yang menuntut ilmu akan mendapat pahala. Jika ia meninggal saat menuntut ilmu, maka ia tergolong syahid.

Pendidikan sejatinya bertujuan untuk mencerdaskan anak bangsa. Tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga cerdas spiritual dan emosional. Ketiga aspek ini seharusnya dimiliki oleh seorang yang mengenyam pendidikan. Kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional akan membawa suatu bangsa menuju peradaban yang mulia. Namun ketidakseimbangan ketiganya akan membawa suatu bangsa pada kemunduran bahkan kebinasaan.

Pendidikan memang tidak hanya didapat melalui sektor formal, tapi juga informal. Pendidikan bukan hanya kewajiban guru di sekolah, tapi juga orang tua, ulama, dan masyarakat sekitarnya. Seorang anak yang dididik di sekolah yang bagus, membutuhkan juga peran orang tua dan lingkungan, agar ia menjadi manusia seutuhnya.

Terkait dengan Hardiknas, saya akan menitikberatkan pendidikan pada sektor formal, khususnya dasar dan menengah. Kita perlu mengevaluasi bagaimana kualitas pendidikan formal kita. Sudahkah sekolah mendidik anak – anak sebagaimana mestinya ? Mencetak manusia berkualitas ?

Berbicara tentang pendidikan formal, tidak terlepas dari dua aspek :
1. Guru
Guru adalah aktor utama dalam dunia pendidikan. Merekalah yang berperan langsung dalam mendidik anak – anak. Merekalah pahlawan tanpa tanda jasa. Ilmu, bimbingan, kasih sayang, mereka curahkan untuk anak – anak didiknya. Sejarah telah mencatat banyak guru – guru teladan. Bu Muslimah dalam cerita Laskar Pelangi misalnya. Saya juga teringat dengan beberapa guru SD saya, bu Sum (Sumiyati) dan bu Momih. Perjuangan mereka, telah mengantar saya dan teman – teman mencintai matematika, IPA, dan berwawasan luas. Mereka telah mengantar kami mencapai cita – cita. Tentunya masih banyak lagi guru – guru teladan yang namanya tidak terukir dalam catatan sejarah, tapi terukir abadi di sanubari para muridnya. Terima kasih guruku.
Namun, sayangnya, dunia pendidikan menjadi tercoreng karena ulah oknum guru yang tidak bertanggung jawab. Berita tentang guru yang melakukan tindak kekerasan, hingga oknum guru yang melakukan pelecehan seksual kepada siswanya, benar – benar memalukan. Jangankan mencerdaskan para siswa, guru – guru seperti ini justru merusak moral dan menghancurkan masa depan bangsa. Oknum guru seperti ini harusnya dipecat selamanya.
Semoga pemerintah memberi perhatian pada kualitas guru. Profesi guru haruslah diisi oleh orang – orang yang cerdas intelektual, spiritual, dan emosionalnya. Jangan sampai guru bermoral bejat dan sakit jiwa hadir di sekolah.

2. Sistem Pendidikan
Sistem pendidikan juga merupakan unsur penting. Saya tidak akan membahas detil tentang kelebihan atau kelemahan kurikulum. Karena saya tidak terkait langsung di dalamnya. Saya juga tidak memiliki pengetahuan tentang kurikulum pendidikan di luar negeri sebagai pembanding. Bahasan ini berisikan pengamatan saya terhadap pendidikan.  Ada beberapa catatan terkait dengan sistem pendidikan kita :

a. Meningkatnya rasa takut
Rasa takut ini muncul tidak hanya pada murid, tapi terlebih pada orang tua dan guru. Standar kelulusan melalui UASBN yang tinggi merupakan salah satu pemicu. Murid merasa takut jika ia tidak dapat mengerjakan soal ujian. Orang tua takut anaknya tidak lulus sekolah. Guru pun takut jika banyak siswanya yang tidak lulus, yang otomatis akan merusak reputasi sekolah.
Syukur – syukur jika rasa takut ini memicu para siswa untuk giat belajar. Atau memicu para guru untuk memberi pendidikan yang terbaik. Namun sayangnya, sering kali rasa takut ini berujung pada jalan pintas yang menghalalkan segala cara. Akrab di telinga kita, berita tentang kebocoran soal, praktek joki, dan lain – lain. Murid tidak segan – segan mencontek di ruang ujian. Orang tua turut membelikan kunci jawaban untuk anaknya. Bahkan pengakuan seorang siswa, langsung kepada saya, bahwa gurunya (yang menjadi pengawas) justru memberi jawaban 20 soal ujian bahasa Indonesia. Jawaban langsung diberikan di ruang ujian. Tampaknya sudah ada kesepakatan dengan guru dari sekolah lain yang juga menjadi pengawas di ruangan itu.
Sedih rasanya. Tampaknya murid, guru, orang tua lebih mengejar nilai demi kelulusan daripada proses pendidikan itu sendiri. Tapi kita tidak bisa hanya menyalahkan siswa, guru dan orang tua. Bisa jadi penyebab terbesar adalah sistem pendidikan yang tidak tepat. Pemerintah perlu mengkaji, syarat kelulusan seharusnya tidak hanya ditentukan dari nilai UASBN. Bagaimana mungkin, proses pendidikan sekian tahun hanya tercermin dalam 40 soal UASBN yang dikerjakan dalam waktu 120 menit saja ? Semoga pemerintah terus mengkaji sistem pendidikan menuju ke arah yang lebih baik.

b. Maraknya bisnis pendidikan
Hal ini sebenarnya juga dipicu oleh rasa takut. Siswa dan orang tua merasa tidak cukup jika hanya mengandalkan ilmu dari guru di sekolah. Tak heran jika sebagian besar siswa sekolah menjadi murid di bimbingan belajar atau mendatangkan guru privat. Padahal sebagian besar tarif bimbingan belajar atau guru privat jauh lebih mahal dari biaya sekolahnya sendiri. Kehadiran bimbingan belajar ini memang tidak salah, hitung – hitung membuka lapangan kerja baru. Tapi kita perlu mengevaluasi, ada apa ini ? Apakah guru tidak dapat mendidik dengan baik ? Apakah kehadiran bimbel justru membuat guru jadi malas mengajar ? Entahlah….Tapi bisa jadi keinginan untuk meneruskan ke perguruan tinggi favorit menjadi salah satu pemicunya.

c. Mahalnya harga Pendidikan

Pendidikan saat ini merupakan barang yang cukup mahal. Sehingga sayangnya ia tidak dapat dibeli oleh sebagian rakyat kita. Padahal ia adalah hak seluruh warga negara. Memang ada sekolah gratis. Tapi baru mencapai beberapa wilayah saja. Itupun hanya sampai tingkat menengah pertama. Belum lagi buku – buku yang hampir tiap tahun berganti.

Apalagi pendidikan tinggi, hanya mampu dinikmati segelintir orang saja. Perguruan tinggi favorit yang dulu bisa dengan mudah dimasuki oleh siswa berotak encer, kini tidak lagi. Untuk kuliah di ITB dan UI khususnya, tak cukup dengan otak encer tapi juga harus berkantong tebal. Walaupun ada ‘jatah’ untuk anak cerdas yang kurang mampu, itu hanya sedikit saja.

Mungkin itu beberapa catatan dari saya. Mari kita mengevaluasi dan membenahi diri. Agar di negeri ini tercipta pendidikan yang berkualitas. Dan Indonesia lebih dihargai warga dunia.

Foto diambil dari sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Recent Comments

septia susetyo on Kapok Pake JNE
Panca on Kapok Pake JNE
privat name on Kapok Pake JNE
Erlina on Kapok Pake JNE
Erlina on Kapok Pake JNE

Visitor Location

Blog Stats

  • 184,978 hits
%d bloggers like this: