Yenni Hartati's Blog & Shop

Bercermin dari Kasus Prita Mulyasari

Posted on: June 12, 2009

Siapa yang tidak kenal Prita Mulyasari ? Beberapa minggu belakangan, nama Prita semakin tenar karena kasus yang dialaminya. Kasus ini berawal dari email curhat yang dikirim Prita ke teman – temannya. Dengan cepat, email pun menyebar ke milis – milis. RS Omni International Tangerang yang disebut – sebut di dalam email itu, merasa gerah. Dengan gegabah, RS Omni pun menempuh jalur hukum. Prita akhirnya dijebloskan ke penjara dengan tuduhan pencemaran nama baik. Mungkin RS Omni hendak menunjukkan ‘power’nya dan memberi efek jera pada Prita.

Tapi ternyata, apa yang dilakukan RS Omni justru menjadi bumerang bagi rumah sakit yang menyebut dirinya international itu. Email yang awalnya dikonsumsi oleh segelintir kecil pengguna internet, kini menjadi berita besar yang didengar, dibaca, dan disaksikan oleh puluhan juta rakyat Indonesia. Kasus Prita diberitakan di TV – TV, ditulis di koran – koran dan majalah. Dukungan untuk Prita datang dari masyarakat luas. Bahkan Presiden SBY dan capres – cawapres lainnya angkat bicara dan mengunjungi Prita di LP.

Sebaliknya, kecaman untuk RS Omni datang bertubi – tubi. Nama international RS Omni pun dipertanyakan. Izin operasinya pun dipertaruhkan. Parahnya lagi, korban – korban dugaan malpraktek RS Omni bermunculan. Sebut saja bu Juliana yang salah satu bayi kembarnya mengalami kebutaan setelah dilahirkan prematur. Juga ada bu Fia (kalo gak salah namanya) yang kehilangan adiknya Alan, setelah mengalami keracunan obat di RS Omni.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kasus ini ?

  1. Perusahaan pemberi jasa harusnya menanggapi complain konsumen dengan baik, menyelesaikan dengan kepala dingin. Jika memang salah, seharusnya dengan legowo meminta maaf. Hal ini akan melunakkan hati konsumen. Tidak muncul efek anti dan jera. Bahkan bisa jadi konsumen akan memuji sifat gentle perusahaan pemberi jasa tersebut dan menceritakannya ke mana – mana.
  2. UU ITE dan Undang – Undang serta peraturan lainnya yang mengancam kebebasan mengeluarkan pendapat perlu dikaji lagi. Harapan kita, DPR dan Pemerintah membuat UU dan peraturan yang adil untuk semua pihak.
  3. Konsumen harus lebih kritis, berani bertanya, mengajukan keberatan jika tidak sesuai. Namun juga harus berhati – hati dalam mengungkapkan curahan hati. Jangan sampai niat baik kita agar peristiwa tertentu tidak terjadi pada orang lain, berujung pada jeratan hukum yang bisa jadi disalahgunakan.
  4. Kasus ini mencerminkan buruknya kualitas layanan yang diberikan kepada konsumen. Seringkali konsumen diperlakukan sebagai objek yang lemah. Hal ini harus diperbaiki. Karena konsumen sudah memberikan kewajibannya (membayar), maka ia pun berhak mendapatkan pelayanan yang sesuai. Buruknya layanan tidak hanya terjadi di dunia medis, tapi juga perusahaan lain yang berhubungan langsung dengan konsumen. Seperti bank, sarana transportasi, restoran, dan lain – lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Recent Comments

septia susetyo on Kapok Pake JNE
Panca on Kapok Pake JNE
privat name on Kapok Pake JNE
Erlina on Kapok Pake JNE
Erlina on Kapok Pake JNE

Visitor Location

Blog Stats

  • 184,978 hits
%d bloggers like this: