Yenni Hartati's Blog & Shop

I’tikaf di El Nusa

Posted on: September 22, 2010

Tidak terasa Ramadhan 1431 H telah berlalu. Meski begitu, ada satu hal yang ingin kutulis tentang pengalaman Ramadhan kemarin. Yakni tentang i’tikaf, atau berdiam diri di masjid yang disunnahkan dilakukan di 10 hari terakhir Ramadhan.

Tahun lalu, aku dan keluarga berkesempatan ber-i’tikaf di masjid El – Nusa JakSel. Sebenarnya panitia tidak menyediakan fasilitas i’tikaf utk akhwat. Tapi dengan suatu cara, akhirnya peserta akhwat dapat melaksanakan i’tikaf di sana. Walaupun hanya mendapat “space” kecil, peserta akhwat tetap merasakan kenyamanan. Hal ini karena jumlah peserta yang tidak terlalu banyak, kamar mandi dan wudhu yang dekat, bersih, dan cukup banyak. Tempat parkir pun luas dan aman. Juga ada penjual jajanan, walaupuan hanya minuman hangat dan jus. Karena panitia benar – benar tidak mengakomodasi peserta akhwat, semua kebutuhan harus kami sediakan sendiri. Misalnya untuk makan sahur. Bagi peserta akhwat yang single, mereka harus membawa makanan sendiri. Bagi akhwat yang ikut suami, sebagian ada yang menitipkan pesanan sahur lewat suaminya, ada juga yang membawa sendiri.

Meski begitu, peserta akhwat tetap semangat ikut i’tikaf, hingga hari terakhir Ramadhan. Hal ini dikarenakan beberapa keunggulan i’tikaf di sana. Selain tempat yang nyaman dan tenang, pengisi acara i’tikaf adalah ustadz – ustadz terkenal yang banyak ilmunya. Ceramahnya bagus – bagus. Imam qiyamul lailnya adalah 2 orang ustadz hafidz Qur’an yang bergantian setiap malamnya. Inilah daya tarik yang utama, khususnya buatku. Setiap malam, imam qiyamul lail membaca 1 juz Al – Qur’an yang berurutan. Kemudian ditutup dengan sholat witir yang disertai dengan do’a qunut yang begitu indah dan menyentuh.

Dengan semua keunggulan itu, aku dan keluarga ingin ber-i’tikaf kembali di masjid El Nusa tahun ini. Tapi ternyata tahun ini panitia memang benar – benar tegas, peserta akhwat sudah tidak ada lagi. Aku sangat menyayangkan hal ini. Berbagai pertanyaan terlintas di benakku. Kenapa peserta akhwat tidak dibolehkan ikut ? Apa karena para bapak2 itu takut ibadahnya terganggu ? Karena biasanya ibu2 suka membawa serta anaknya ? Padahal anak2 itu kan anak – anak mereka juga. Ibu – ibu itu kan sebagian adalah istri – istri mereka atau ibu – ibu mereka. Mengapa mereka tidak mengakomodasi ibadah dan majelis ilmu untuk keluarganya sendiri ? Pertanyaan2 itu terluncur dari benak ku diiringi dengan rasa kesal. Hal ini karena cuma masjid El Nusa lah yang cukup dekat dengan rumahku, tempatnya nyaman, dan program i’tikafnya bagus2.

Tulisan ini sebagai curhatku. Ingin sekali menyampaikan hal ini langsung ke panitia di sana. Tapi belum tahu melalui apa. Mudah2an ada panitia yang membaca tulisan ini, dan mengevaluasi kembali kebijakan mereka. Agar di tahun depan mereka memfasilitasi peserta akhwat yang ingin beri’tikaf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

September 2010
M T W T F S S
« May   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Recent Comments

septia susetyo on Kapok Pake JNE
Panca on Kapok Pake JNE
privat name on Kapok Pake JNE
Erlina on Kapok Pake JNE
Erlina on Kapok Pake JNE

Visitor Location

Blog Stats

  • 184,978 hits
%d bloggers like this: