Yenni Hartati's Blog & Shop

Pengalaman Buruk dg Crew Busway

Posted on: December 31, 2010

Sengaja saya ceritakan pengalaman ini agar tidak terulang pada sobat semua. Dan harapan saya ada perbaikan pada pelayanan umum khususnya busway (trans Jakarta). Saya akan menyebutkan beberapa nama crew, dengan maksud (mudah2an ada teguran/reward kepada yang bersangkutan). Di sisi lain agar kita semua, khususnya yang terjun langsung dalam pelayanan publik dapat melakukan pelayanan dengan lebih baik (utk menghindarkan adanya komplain dari konsumen). Jadi saya sama sekali tidak bermaksud utk mencemarkan nama baik pelaku.

Saya perkenalkan dulu diri saya ya….Nama Yenni Hartati. Usia 31 tahun, tinggal di kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan. Saat ini sedang menjadi pembina club anak – anak (yang memasuki masa remaja), dengan jumlah total 15 orang. Untuk mengisi liburan sekolah, kami bermaksud bererkreasi ke beberapa museum di kawasan Kota Tua Jakarta. Kami sengaja memilih rekreasi di hari kerja. Dengan pertimbangan, pertama, di hari libur  (week end) area wisata biasanya sangat ramai, jadi khawatir tujuan utk rekreasi dan belajar tidak tercapai. Kedua, di hari libur sudah banyak acara yang harus saya ikuti. Dengan memilih hari kerja, saya bisa mengosongkan satu hari penuh untuk jalan – jalan bersama anak – anak. Walaupun saya sadar pasti di jalan bakal ramai dengan para karyawan yang akan berangkat ke kantor. Jadi kami putuskan utk berangkat jam 7.30 pagi, dan pulang maksimal jam 3 sore (menghindari jam pulang kantor).

Sarana transportasi yang saya pilih utk ke Kota Tua adalah busway. Dengan alasan, murah, relatif tidak terkena macet, cukup nyaman karena ber-AC. Ada alternatif sarana transportasi lain yang tidak macet, yaitu kereta. Tapi di pagi hari, kereta seringkali sangat penuh, saya khawatir anak – anak tidak nyaman dan bahkan bisa cedera.

Kemudian kami juga memutuskan naik di halte busway ragunan. Karena ini adalah halte paling awal utk koridor 6, bus2 masih dalam keadaan kosong. Perhitungan saya anak – anak bisa dapat duduk semua. Selain itu antrian di halte ini biasanya relatif lebih tertib dibandingkan halte lainnya.

Okay, cukuplah latar belakangnya ya, sekarang saya mulai cerita pengalaman saya. Pada hari selasa, tanggal 28 Desember 2010, saya beserta rombongan hendak berekreasi ke Kota Tua, dengan busway. Dari grup saya hadir 13 orang anak. Namun ada juga anggota grup lain yang ikut, beserta pembina dan orang tuanya. Total rombongan adalah 18 orang anak (mayoritas pelajar kelas 7), dan 4 dewasa (termasuk saya). 21 orang perempuan dan 1 orang anak laki – laki kelas 5 SD.

Kami berkumpul di halte ragunan sejak pukul 8 kurang. Sekitar pukul 8 rombongan kami sudah lengkap. Kami pun bergegas membeli tiket. Seorang anak (Nisa, ketua kelompok) ditugaskan untuk membeli tiket. Dari sini saja sudah kelihatan bahwa pelayanan crew busway itu kurang ramah. Nisa menghitung ulang tiket yang diterima, dan menemukan kekurangan. Kemudian dengan kasar petugas penjual tiket merebut tumpukan tiket dari tangan Nisa, dan menghitung ulang, ternyata jumlahnya sudah benar. Saya memperhatikan kejadian itu dengan seksama. Memang saya akui Nisa cukup lambat geraknya, yah, namanya juga anak smp kelas 1. Meski begitu, harusnya petugas tetap melayani dengan ramah. Dan maklum karena yang dia hadapi adalah ABG yang belum terbiasa.

Setelah membeli tiket dan menyerahkannya kepada petugas lain, kami pun masuk ke arena antrian. Saat itu antrian sudah tidak begitu ramai. Di sana tersedia 4 pintu untuk naik ke bus. Pintu pertama untuk antrian penumpang duduk, tujuan dukuh atas, harmoni, dan senen. Pintu kedua untuk antrian penumpang berdiri dengan tujuan yang sama. Pintu ketiga untuk antrian penumpang dengan tujuan blok M atau Kota. Saat saya dan rombongan datang, pintu ini sedang tidak difungsikan. Pintu keempat untuk antrian khusus ibu hamil, ibu yang menggendong anak kecil, lansia, dan penderita cacat.

Saya katakan kepada petugas (berseragam abu – abu) bahwa saya bersama rombongan hendak ke Kota atau Harmoni, kemana kami harus mengantri. Sebagian petugas mengatakan kami dapat mengantri di pintu 4, tapi menurut petugas yang lain kami harus mengantri di pintu 1. Akhirnya kami mengantri di pintu 1. Tetapi rombongan yang lain (club anak laki – laki) mengantri di pintu 4, dan tak lama setelah itu mereka pun naik ke bus dan berangkat.

Antrian di pintu 1 terbagi menjadi 4 baris, 3 baris khusus wanita dan 1 baris khusus penumpang pria. Namun tidak ditentukan baris mana utk penumpang dengan tujuan harmoni/kota, dukuh atas, dan senen. Saya dan anak – anak mengantri dengan tertib. Namun karena busway menuju harmoni tidak banyak, kami harus menunggu cukup lama. Karena pintu itu juga merupakan jalan masuk untuk penumpang jurusan lain, kami harus memberi jalan bagi mereka. Sehingga antrian rombongan kami dibuat 2 baris saja, memanjang ke belakang. Sementara baris ketiga dan keempat di isi oleh penumpang lain. Saat itu, di pintu 1 ini, ada dua petugas bernama Dade S dan M.Sofyan. Entah apa tugas mereka sebenarnya, yang terlihat M. Sofyan berdiri menahan pintu busway, agar penumpang dapat masuk dengan aman tanpa khawatir terjepit pintu. Sedangkan si Dade S tidak tahu apa tugasnya, hanya berdiri saja, terkadang dia mengatur antrian.

Karena baris ketiga dan keempat diisi oleh orang lain, saya sadar, mereka bisa menjadi “ancaman” bagi rombongan kami. Saya tahu beberapa orang juga hendak ke Harmoni. Saya khawatir mereka yang semuanya adalah orang – orang dewasa yang sudah berpengalaman berebut bangku di busway akan mengalahkan anak – anak saya. Oleh karena itu saya katakan ke 2 petugas tadi (Dade dan Sofyan) bahwa saya bersama rombongan anak – anak akan ke harmoni. Saya katakan itu beberapa kali dengan jedah waktu, untuk mengingatkan mereka. Dan saya yakin mereka tahu bahwa kami sudah lama mengantri dari jam 8 (lewat dikit). Saya harap mereka akan mendahulukan kami memasuki busway.

Pukul 9 tepat, busway jurusan Harmony datang. Saya pun meminta anak – anak untuk bersiap – siap. Penumpang lain pun bersiap – siap naik. Ketika pintu busway terbuka, terjadilah apa yang saya khawatirkan, para penumpang di baris ke-3 dan 4 berebut masuk. Saya sempat halangi mereka dengan badan dan tangan saya, sambil mengatakan tunggu dulu Mba Bu, saya dan rombongan mengantri lebih dulu, biarkan kami masuk duluan. Mereka tidak peduli, mendorong saya dan terus saja masuk dengan beringas. Karena saya tidak berhasil menghalangi penumpang, saya minta bantuan ke M Sofyan dan Dade S, tapi mereka diam saja. Selang beberapa detik, busway yang semula kosong terisi penuh oleh penumpang. Dan saya lihat sebagian besar anak – anak saya berdiri (tidak kebagian tempat duduk). Saya protes kepada dua petugas itu, saya kan sudah katakan kepada mereka bahwa saya dan rombongan dan datang lebih dulu, kenapa mereka tidak mengatur penumpang yang lain ? Jadi percuma dong, saya sudah capek – capek mengatkan ke mereka berulang kali. Hormatilah kami yang sudah antri hampir satu jam. Mereka hanya mengatakan nggak bisa bu, mereka juga antri. Iya, mereka memang antri tapi mereka datang setelah kami. Mereka bisa berdiri di depan (baris ke-3 dan ke-4) karena saya dan rombongan memang sengaja mengosongkan barisan itu, untuk mempersilahkan penumpang lain yang beda jurusan dengan kami. Tapi tolong dong, untuk busway ke Harmoni kami harus masuk lebih dulu, karena kami memang berhak untuk itu, kami sudah mengantri hampir satu jam, dan kami datang jauh sebelum penumpang lain itu datang. Petugas tetap berdalih, siapa yang cepat dia dapat. Mereka menyalahkan saya, bahwa mereka tidak bisa menolong kami karena kami tidak memiliki surat izin rombongan. Saya tanyakan, mengapa tidak menggunakan kaidah umum saja, bahwa siapa yang datang lebih duluan, maka berhak duluan masuk ke busway. Bukankah selama ini di busway sudah diberlakukan sistem antrian ? Mengapa kedua petugas itu seolah – olah tidak peduli bahwa kami datang lebih dulu. Beberapa penumpang yang antri pun tampak kesal dengan saya, mungkin mereka menganggap saya mau enak nya sendiri. Saya yang saat itu kesal dan marah karena ulah penumpang bar – bar dan petugas yang “tidak berdaya” itu, balik membentak mereka, kami datang lebih dulu dari kalian semua dan sudah mengantri satu jam, wajar dong kalo kami harus naik lebih dulu. Mereka pun terdiam.

Jika berprinsip siapa cepat dia dapat, jadi kembali ke hukum rimba dong, siapa yang kuat akan memangsa yang lemah. Sebagai manusia beradab, harusnya kita menghormati siapa yang duluan mengantri, maka dia lebih berhak masuk lebih dulu. Anak – anak kami yang masih kecil, gerak – gerik lambat, lemah gemulai, dan lugu itu, terang saja kalah melawan orang – orang dewasa yang lebih kuat dan berpengalaman saling sikut – menyikut utk rebutan tempat duduk.

Terlintas di pikiran saya, anak – anak sudah lelah berdiri mengantri, sekarang mereka harus berdiri lagi di dalam busway yang sesak dengan penumpang. Padahal perjalanan dari Ragunan ke Harmoni dan kemudian ke Kota sangat jauh (ujung ke ujung).

Akhirnya saya ajak anak – anak untuk turun. Percuma kami berdiri mengantri satu jam, sabar menunggu, tertib, memberi jalan bagi penumpang lain yang tidak setujuan dengan kami, berusaha untuk tidak merugikan orang lain. Namun pengorbanan itu sia – sia belaka. Kami dikalahkan oleh penumpang lain yang tidak menghormati siapa yang duluan datang, mau enaknya sendiri, bar – bar. Sempat terdengar celotehan penumpang yang terperangah dengan kemarahan saya, busyet katanya.

Karena tidak berhasil meminta bantuan petugas penjaga pintu, saya pun bergegas bertanya ke petugas lain (penyobek tiket masuk), siapa yang bertanggung jawab (pimpinan di sana saat itu). Saya ingin melaporkan kejadian ini, dan berharap solusi yang adil bagi kami. Saya lupa tidak melihat namanya. Saya jelaskan duduk persoalannya kepada petugas itu. Tapi dia pun tidak bisa apa – apa. Akhirnya muncul seorang petugas berseragam putih – hitam, berpeci, dan berjanggut, namanya Purwanto. Walaupun menghadapi saya yang cukup emosional, dengan sabar dia menjelaskan, bahwa aturan di busway itu untuk rombongan perlu melapor ke BLU, supaya disediakan bus khusus. Saya katakan, bahwa kami tidak tahu itu. Dan kami berniat sebagai penumpang biasa, jadi ikut antrian seperti biasa. Saya jelaskan kepadanya berapa lama sudah kami mengantri dan apa yang terjadi saat masuk ke busway. Dia bertanya apakah di sana (pintu) tidak ada petugas ? Saya katakan ada 2 orang penjaga pintu, dan satu orang kondektur busway. Tapi mereka semua diam saja tak berdaya, benar – benar hanya menjadi pengganjal pintu. Purwanto pun tampak menyesali sikap temannya.

Tak lama datang lagi seorang petugas, tidak berseragam, bernama Marcello. Kami (saya dan bu Elin) jelaskan ulang apa yang terjadi. Lalu dia memberi solusi, kalau begitu ibu dan anak – anak antri lagi di pintu yang sama. Tentu saja saya dan bu Elin tidak setuju dengan solusi itu. Kami tadi sudah mengantri dengan tertib selam satu jam, ternyata kami tetap tidak kebagian tempat duduk, kalah cepat oleh penumpang lain. Dan sekarang kami diminta mengantri lagi dari awal ? Anak – anak pun tidak setuju, mereka kelihatan sudah lelah. Solusi dari Marcello benar – benar tidak berorientasi kepada kepuasan pelanggan yang sudah dirugikan, mau enaknya sendiri, tidak ada empati sama sekali.

Kami ingin sebagai “bayaran” peristiwa tadi, kami diperbolehkan mengantri di pintu khusus, agar kami semua bisa duduk. Purwanto yang berempati dengan kami tidak langsung menyetujui permintaan kami. Karena dia harus meminta izin dari atasannya dulu, dia merasa tidak berhak mengambil keputusan. Karena tidak diperbolehkan, ya sudah, saya meminta kembalikan saja uang kami, agar kami bisa naik sarana transportasi lain. Tetapi petugas tiket mengatakan tidak bisa bu, tiket sudah disobek. Jadi gimana dong ? Kami merasa sudah sangat dirugikan dari segi tenaga, waktu, dll. Dan para petugas itu banyak yang masa bodoh, hanya menjadi penonton.

Akhirnya Purwanto mempersilahkan kami menunggu di pintu khusus, sambil menunggu atasannya datang. Dia pun mengontak atasannya, sepertinya dengan handy talkie. Saat kami menunggu itu melintaslah seorang penumpang wanita, dia bertanya ke petugas dengan nada mengejek sambil melirik rombongan kami, ini hamil semua ya ? Si petugas hanya tersenyum kecut. Mendengar perkataannya, ingin rasanya saya menghajar mba bermulut usil itu, kalau tidak tahu masalah jangan asal ngomong dong. Orang Jakarta sepertinya banyak yang sirik aja  dengan orang lain yang menurutnya mendapat perlakuan istimewa.

Tak lama datanglah dua orang pimpinannya, satu berseragam coklat agak orange, satu lagi tidak berseragam. Saya tidak bisa melihat namanya, karena name tag yang mereka pakai dalam posisi terbalik (sama dengan Marcello, hingga akhirnya saya minta name tagnya dibalik). Bu Elin menjelaskan kepada mereka apa yang telah terjadi, dan bagaimana solusi yang kami minta. Mereka sempat juga menjelaskan bahwa jika kami membawa rombongan, harusnya melapor dulu ke BLU dengan surat resmi, agar disediakan bus khusus, yang akan mengantar langsung ke tujuan tanpa berhenti di semua halte yang ada. Kami katakan bahwa kami belum tahu tentang hal itu. Dan kami juga ingin anak – anak belajar prosedur naik busway yang sebenarnya. Kami pun mengantri dengan tertib. Tapi ternyata masih berlakuk hukum rimba.

Akhirnya kedua petugas itu menyetujui permintaan kami.  Kami diperbolehkan naik lebih dulu dari pintu lain. Purwanto pun mencarikan bus yang menuju ke Harmoni, dan mengantar kami hingga menaiki bus. Saat itu sudah pukul 09.30 WIB.

Kesimpulan

Saya sangat menyesali kejadian ini. Kami sudah banyak dirugikan. Para petugas busway itu, sebagian besar tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Mereka pun tampak berdiri atau duduk – duduk saja menjadi penonton. Dari mungkin sekitar 20 orang petugas yang ada di sana saat itu, hanya satu saja yang seperti Purwanto. Yang sabar mendengar keluhan penumpang dan berusaha mencari solusi yang terbaik.

Agar kejadian seperti ini tidak terulang, perlu dibuat antrian khusus per jurusan.  Yang mau ke Harmoni ada antrian khusus. Begitu juga yang akan ke Dukuh atas, Senen, dll. Karena jika antrian tetap seperti sekarang, sangat rawan orang yang datang belakangan dapat posisi di depan (barisan ketiga dan keempat). Dengan sistem antrian seperti sekarang, harusnya saya dan rombongan mengisi keempat barisan yang ada, dan hanya mempersilahkan lewat penumpang yang mau ke dukuh atas atau senen saja. Tapi itu tidak mungkin dilakukan kan ? Karena sama saja dengan menghalangi penumpang lain. Tidak mungkin juga kami menanyakan satu persatu kemana tujuan mereka.

Sebagai sesama penumpang, harusnya kita juga saling menghargai. Kalau kita datang belakangan jangan menyerobot kesempatan penumpang yang datang duluan. Kalau takut telat, datanglah lebih awal. Sering kali saya dan mungkin juga sobat semua, menemukan orang2 yang curang dalam mengantri.

Petugas penjaga pintu harusnya juga menjalankan tugasnya dengan baik. Bukankah dia tahu siapa yang datang lebih dulu ? apa lagi kami sudah lama mengantri di sana, dan saya pun sudah menjelaskan kepada mereka. Dan mereka punya kemampuan / kekuasaan untuk itu. Sebandel – bandelnya penumpang, biasanya akan segan dan nurut dengan perintah petugas. Jangan Cuma diam saja, dan malas melakukan sesuatu.

Petugas yang lain pun harusnya juga memberikan layanan terbaik dan ramah. Di antaranya petugas penjual tiket. Di hari yang sama, di halte busway Kota, saya mendapat layanan buruk dari petugas penjual tiket bernama Susilawati. Tapi ceritanya mungkin di lain waktu saja ya….Ini sudah lebih dari 2300 kata J

 

Semoga tulisan ini turut berperan dalam perbaikan layanan publik ke depan. Saya harap sobat juga bisa memberik saran kemana aduan ini tepatnya disampaikan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

December 2010
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Recent Comments

septia susetyo on Kapok Pake JNE
Panca on Kapok Pake JNE
privat name on Kapok Pake JNE
Erlina on Kapok Pake JNE
Erlina on Kapok Pake JNE

Visitor Location

Blog Stats

  • 184,978 hits
%d bloggers like this: