Yenni Hartati's Blog & Shop

Perjalanan Farah Abdah Menghafal Al-Quran

Posted on: June 4, 2015

Allahummarhamna bil Quran

Allahummarhamna bil Quran

Pada tulisan saya terdahulu (bisa dibaca di sini), saya menceritakan acara kajian yang mengundang pembicara ustazah Farah Abdah. Pada tulisan kali ini, saya hendak menceritakan pengalaman beliau dalam menghafal Al-Quran hingga berhasil mendapatkan sanad ke-30 riwayat Hafsh ‘An ‘Ashim dengan jalur Syatibiyah.

Ustazah Farah Abdah mulai menghafal sejak kelas 2 SMA . Waktu itu ustz Farah tinggal di pesantren. Sebenarnya, karena ustazah sekolah, maka oleh pesantren tidak diwajibkan menghafal Al-Quran. Tetapi, ustazah tertarik melihat teman-temannya di pesantren yang menghafal Al-Quran. Beliau pun akhirnya ikut menghafal. Awalnya menghafal juz 30, ternyata mudah dan menyenangkan. Ustazah Farah pun sempat ikut musabaqoh hifzil Quran juz 30, dan ternyata menang. Sehingga dimotivasi oleh pembimbing untuk menuruskan hafalannya. Akhirnya ustazah Farah lanjut menghafal juz-juz berikutnya. Tapi waktu itu, ustazah belum memahami keutamaan menghafal Al-Quran, hanya sekedar menghafal – menghafal saja.

Hingga tamat SMA, sudah memiliki hafalan 15 juz. Waktu itu ustazah berpikir, kenapa tidak sekalian diselesaikan saja hafal 30 juz. Akhirnya beliau menambah waktu satu tahun lagi di pesantren, dan selesai menghafal hingga 30 juz.

Ustazah pun kembali berpikir, sayang sekali hafalan yang nempel hanya sekitar 5 juz saja, itupun karena beliau ikut musabaqoh hifzil Quran. Juz-juz sisanya terlupakan, karena tidak dimurojaah, hanya setor – setor saja. Akhirnya ustazah bertekad mencari tempat untuk murojaah. Pada tahun 2010,  ustazah mengikuti program di LTQ Utsmani Condet, Jakarta Timur. 10 bulan selesai murojaah 30 juz. Lalu ustazah mengajar di lembaga ini.

Satu tahun berlalu, pada suatu hari, Utsmani mengadakan acara yang diisi oleh Mu’allimah Ahlam, seorang hafizoh bersanad, asli Yaman. Ustazah Farah, secara refleks berdoa dalam hati, ingin belajar dengan beliau.

Setahun kemudian, ustazah Farah, berniat untuk pulang kampung, ingin kuliah. Tapi diajak oleh Utsmani untuk ikut Dauroh Jazariah di salah satu pesantren tahfiz di daerah Bogor. Ustazah Farah bersama dua orang temannya mewakili Utsmani. Di sini lah doa ustazah Farah terkabul, untuk belajar dari mu’allimah Ahlam. Saat itu, ustazah Farah sudah pernah menyetorkan hafalan Al-Quran 20 juz dalam sekali duduk. Melihat kondisi peserta lainnya, yang sudah lancar menyetorkan 30 juz, ustazah Farah merasa stress, karena masih ada hafalan 10 juz yang kurang lancar. Ingin pulang/mundur, tapi tidak diizinkan oleh mu’allimah. Akhirnya resmilah ustazah Farah mengambil sanad di sini. Ikut dauroh jazariah selama 2 bulan. Lalu setor jazariah, dinyatakan lulus, dan mendapat sertifikat sanad jazariah.

 

Kemudian berlanjut ke proses untuk mendapatkan sanad tahfizul Quran. Tahapan pertama adalah tadribul khos, melatih lidah untuk mengucapkan huruf dengan benar. Tahapan ini dirasa sulit. Karena lidah Indonesia banyak salah dalam mengucap huruf. Utk huruf dhod saja, ustazah perlu waktu hampir 2 tahun. Di tahapan ini, ustazah menyetorkan hafalan qodiim 2 juz / hari dan ziyadah (utk hafalan yg kurang lancar) 2 halaman / hari. Tahap ini dijalani sekitar 1 tahun. Lalu mu’allimah menyatakan ustazah Farah bisa lanjut ke tahap berikutnya, yaitu tadrib bil ghoib. Alhamdulillah selesai dalam 1 hari.

Lanjut ke tahap ketiga yaitu ardh, menyetorkan hafalan 30 juz tanpa ada kesalahan satu pun. Mu’allimah Ahlam adalah seorang guru yang tegas. Ketika ada kesalahan, beliau cuma memberi isyarat dengan ketukan, tapi tidak memberi tahu dimana salah nya. Lalu setoran harus diulang lagi sampai benar semua. Ketika ustazah Farah lupa saat setoran, mu’allimah sama sekali tidak mau memberi tahu apa lanjutannya, beliau hanya menunggu, bahkan pernah sampai dua jam. Ketika mu’allimah lelah menunggu, beliau pun mengambil Al-Quran dan menyerahkan nya ke ustazah Farah, “nih, baca lagi ya! Setorannya besok saja”.  Tahap ini sangat berat. Ustazah Farah sering menangis di hadapan mu’allimah, tapi mu’allimah hanya berkata,” Yaa Faroh, saya tidak bisa bantu kamu.”

Namun dengan kesabaran dan karunia dari Allah semata, akhirnya ustazah Farah berhasil mendapatkan sanad, yang berarti hafalannya sudah mutqin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

June 2015
M T W T F S S
« May   Aug »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Recent Comments

septia susetyo on Kapok Pake JNE
Panca on Kapok Pake JNE
privat name on Kapok Pake JNE
Erlina on Kapok Pake JNE
Erlina on Kapok Pake JNE

Visitor Location

Blog Stats

  • 184,978 hits
%d bloggers like this: